Wednesday, May 9, 2012

Laporan Pendahuluan Ketuban Pecah Dini


LAPORAN PENDAHULUAN
KETUBAN PECAH DINI (KPD)

A.      Ketuban Pecah Dini (KPD)
Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan masalah penting dalam obstetri berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya khorio amnionitis sampai sepsis yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal dan menyebabkan infeksi ibu (Sarwono, 2001, 218).
Penyebab dari KPD masih belum jelas, maka preventif tidak dapat dilakukan kecuali dalam usaha menekan infeksi. Tetapi ada faktor-faktor lain yang merupakan faktor predisposisi yaitu : multipara, malposisi, disproporsi, servik,  insompeten dan lain-lain (Sinopsis Obstetri, Jilid I : 255).
Pada usia kehamilan 24-32 minggu yang menyebabkan menunggu berat janin cukup,faktor predisposisi yaitu : multipara, malposisi, disproporsi, servik,  insompeten danlain-lain (Sinopsis Obstetri, Jilid I : 255).
Pada usia kehamilan 24-32 minggu yang menyebabkan menunggu berat janin cukup,lu dipertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan dengan kemungkinan janin tidak dapat diselamatkan (Manuaba, 1998).

1.             Pengertian Ketuban Pecah Dini (KPD)
Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan ditunggu satu jam sebelum dimulainya tanda persalinan (Manuaba, 1998).
Ketuban Pecah Dini (KPD) atau Spontanieus/Early Ruptur of The Membrane (PROM) adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu yaitu bila pembukaan pada primi kurang dari 3 cm dan pada multi kurang dari 5 cm (Buku Sinopsis Obstetri, Jilid I : 255).
Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah pecahnya ketuban sebelum proses persalinan berlangsung (Sarwono, 2001).




2.             Insiden
Kejadian ketuban pecah dini 10% dari persalinan, pada umur kehamilan kurang dari 34 minggu kejadiannya sekitar 4%. Sebagian dari ketuban pecah dini mempunyai periode laten melebihi 1 minggu. Early Rupture of  Membrane adalah ketuban pecah pada fase laten persalinan (Manuaba, 1998).
Penjelasan lain Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah :
a.             Keluarnya cairan berupa air-air dari vagina setelah kehamilan berusia 22 minggu
b.             Ketuban dinyatakan pecah dini jika terjadi sebelum proses persalinan berlangsung
c.             Pecahnya selaput ketuban dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm

3.             Etiologi
Penyebab dari KPD masih belum jelas, maka preventif tidak dapat dilakukan kecuali dalam usaha menekan infeksi. Angka kejadian KPD lebih tinggi terjadi pada wanita dengan servik incompeten, polyhidramnion, mal presentasi janin, kehamilan ganda. KPD berhubungan dengan hal-hal berikut :
a.            Adanya hipermortilitas rahim yang sudah lama terjadi sebelum ketuban pecah.
b.           Selaput ketuban terlihat tipis (kelainan ketuban).
c.            Infeksi (amnionitis atau korioamnionitis).
d.           Faktor-faktor lain yang merupakan predisposisi ialah multipara, malposisi, disproporsi, cevix incompeten dan lain-lain.
e.            KPD artifisial (amnionitomi), dimana ketuban dipecahkan terlalu dini (Sinopsis Obstetri, Jilid I : 256).

4.             Fisiologi
Di dalam ruang yang diliputi oleh selaput janin yang terdiri dari lapisan amnion dan lapisan korion terdapat likuora amnii (air ketuban). Volume likuor amnii pada hamil cukup bulan adalah 1.000-1.500 ml. Warna putih,  agak keruh serta mempunyai bau yang khas yaitu bau amis dan berasa amis. Reaksinya agak alkalis dan netral dengan berat jenis 1.008. Komposisinya terdiri atas 98% air dan sisanya terdiri atas garam organik serta bahan organik dan bila teliti dengan benar terdapat rambut lanugo sel-sel epitel dan vernik kaseosa, protein ditemukan rata-rata 2,6% gr/liter sebagian besar sebagai albumen.
Peredaran cairan ketuban sekitar 500 cc/jam atau sekitar 1% terjadi gangguan peredaran pada air ketuban melebihi 1.500 cc air ketuban dapat digunakan sebagai bahan penelitian untuk kematangan paru-paru janin (Sarwono, 199)
Faal air ketuban :
a.             Untuk proteksi janin
b.             Mencegah pelengketan janin dengan amnion.
c.             Agar janin dapat bergerak dengan bebas.
d.            Regulasi terhadap panas dan perubahan suhu.
e.             Meratakan tekanan intra uterin dan membersihkan jalan lahir bila ketuban pecah.
f.              Menyebarkan kekuatan his sehingga serviks membuka.
g.             Sebagai pelicin saat persalinan.

5.             Patofisiologi
Dalam proses persalinan normal, ketuban akan pacah secara spontan menjelang pembukaan lengkap. Dengan pecahnya ketuban tersebut terjadi tekanan pada fleksus fraken hauser yang terletak pada pertemuan ligamentum uterosakralis dan akan merangsang terjadinya reflek mengedan. Sedangkan pada kasus ketuban pecah dini, pecahnya ketuban disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intra uterin atau dapat juga karena kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan disebabkan oleh adanya infeksi yang berasal dari vagina dan serviks (Saifuddin, 2001)

6.             Diagnosis
Diagnosis ketuban pecah dini meragukan kita, apakah ketuban benar sudah pecah atau belum. Apalagi bila pembukaan kanalis servikal belum ada atau kecil.
Penegakkan diagnosis KPD bisa dengan cara :
a.             Menentukan pecahnya selaput ketuban dengan adanya cairan ketuban di vagina.
b.             Memeriksa adanya cairan yang berisi mekonium, vernik kaseosa, rambut lanugo dan kadang-kadang bau kalau ada infeksi.
c.             Dari pemeriksaan inspekulo terlihat keluar cairan ketuban dari cairan servikalis.
d.            Test nitrazin/lakmus, kertas lakmus merah berubah menjadi biru (basa) bila ketuban sudah pecah.
e.             Pemeriksan penunjang dengan menggunakan USG untuk membantu dalam menentukan usia kehamilan, letak janin, berat janin, letak plasenta serta jumlah air ketuban. Pemeriksaan air ketuban dengan tes leukosit esterase, bila leukosit darah lebih dari 15.000/mm3, kemungkinan adanya infeksi (Sarwono, 2001).
Diagnosis
Gejala dan Tanda
selalu ada
Gejala dan Tanda kadang-kadang ada
Diagnosis Kemungkinan
-      Keluar cairan ketuban
-    Ketuban pecah tiba-tiba
-    Cairan tampak di introitus
-    Cairan ada his dalam 1 jam
Ketuban pecah dini
-      Cairan vagina berbau
-      Demam/menggigil
-      Nyeri perut
-    Riwayat keluarnya cairan
-    Uterus nyeri
-    Denyut jantung janin cepatperdarahan pervaginam sedikit-sedikit
Amnionitis
-      Cairan vagina berbau
-      Tidak ada riwayat ketuban pecah
-    Gatal
-    Keputihan
-    Nyeri perut
-    Disuria
Vaginitis/servisitisb
-      Cairan vagina berdarah
-    Nyeri perut
-    Gerak janin berkurang
-    Perdarahan banyak
Perdarahan antepartum
-      Cairan berupa darah lendir
-    Pembukaan dan pendataran serviks
-    Ada his
Awal persalinan aterm atau preterm
Struktur Penatalaksaanan Penanganan Ketuban Pecah Dini
 



 



















(Sumber : Manuaba, 1998)

7.             Pengaruh Ketuban Pecah Dini Terhadap Ibu dan Janin
a.            Pada Anak
Karena janin telah terbuka maka dapat terjadi infeksi intra pratal, apalagi bila terlalu sering diperiksa dalam. Selain itu juga dapat dijumpai infeksi puerperalis (nifas), peritonitis dan septikemia serta dry labour. Ibu akan merasa lelah karena terbaring di tempat tidur, partus akan menjadi lama, maka suhu tubuh naik, nadi cepat dan tampak gejala-gejala infeksi.
b.           Pada Ibu
Walaupun ibu belum menunjukkan gejala-gejala infeksi tetapi janin mungkin sudah terkena infeksi, karena infeksi intra uterin lebih dahulu terjadi (amnionitis, vaskulis) sebelum gejala pada ibu dirasakan. Jadi akan meninggikan mortalitas dan morbiditas perinatal (Sinopsis Obstetri, Jilid I : 257).

8.             Komplikasi
a.            Pada Anak
IUFD, IPFD, Asfiksia dan Prematuris (Sinopsis Obstetri, Jilid I : 258).
b.           Pada Ibu
Partus Lama dainfeksi, atonia uteri, perdarahan post partum atau infeksi nifas (Sinopsis Obstetri, Jilid I : 258).

9.             Penatalaksanaan
Ketuban pecah dini merupakan sumber persalinan prematuritas, infeksi dalam rahim terhadap ibu maupun janin yang cukup besar dan potensial. Oleh karena itu, penatalaksanaan ketuban pecah dini memerlukan tindakan yang rinci, sehingga dapat menurunkan kejadian persalinan prematuritas dan infeksi dalam rahim. Memberikan profilaksis antibiotik dan membatasi pemeriksaan dalam merupakan tindakan yang perlu diperhatikan. Disamping itu makin kecil umur kehamilan makin besar peluang terjadi infeksi dalam lahir yang dapat memicu terjadinya persalinan prematuritas bahkan berat janin  kurang dari 1 kg (Manuaba, 1998).
a.            Penanganan Konservatif
1)        Rawat di rumah sakit
2)        Berikan antibiotika (Ampicillin 4 x 500 mg/eritromisin) dan Metronidazole.
3)        Jika umur kehamilan 32-34 minggu, dirawat selama air ketuban masih keluar atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.
4)        Jika umur kehamilan 34-37 minggu belum inpartu, tidak ada infeksi berikan tokolitik, deksametason dan induksi sesudah 2 jam.
5)        Jika umur kehamilan 34-37 minggu ada infeksi beri antibiotik dan lakukan induksi.
6)        Nilai tanda-tanda infeksi.
7)        Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid untuk memicu kematangan paru janin (Sarwono, 2001).
b.           Penanganan Aktif
1)        Kehamilan lebih dari 37 minggu, induksi oxytiksin bila gagal seksio caesaria dapat pula diberikan Misoprostol 50 mg intra vaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali.
2)        Bila ada tanda-tanda infeksi, berikan antibiotika dosis tinggi dan kehamilan diakhiri.

10.         Prognosis
Prognosis ditentukan oleh cara penatalaksanaan dan komlikasi yang mungkin timbul serta umur dari kehamilan (Sinopsis Obstetri, Jilid I : 257).

Penatalaksanaan Ketuba Pecah
< 37 minggu
> 37 minggu
Infeksi
Tidak Ada Infeksi
Infeksi
Tidak Ada Infeksi
Berikan Penicillin, Gentamisin dan Metronidazole
Berikan Amoxcillin dan Eritromisin untuk 7 hari
Berikan Penicillin, Gentamisin dan Metronidazole
Berikan Penicillin dan Ampisillin.

Antibiotik Setelah Persalinan
Profilaksis
Infeksi
Tidak ada infeksi
Stop antibiotik
Lanjutkan untuk 24-28 jam, setelah bebas panas
Tidak perlu antibiotik

(Sumber : Sarwono, 2001)



DAFTAR PUSTAKA


1.             Departemen Kesehatan RI, 2001, Konsep Asuhan Kebidanan, Jakarta.
2.             Manuaba, Ida bagus Gede, 1998,  Ilmu Kebidanan Penyaki Kandungan dan KB, Penerbit Buku Kedokteran, EGC : Jakarta.
3.             Muhtar, Rustam, etc, 1998,  Sinopsis Obstetri, Jilid I, Penerbit Buku Kedokteran, EGC : Jakarta.
4.             Prawirohardjo, Sarwono, 1997,  Ilmu Kebidanan, Edisi III, Penerbit yayasan Bina Pustaka : Jakarta.
5.             ___________________, 2001, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Cetakan Kedua, Penerbit JNPKKR POGI dan Yayasan Bina Pustaka : Jakarta.
6.             Saefuddin, Abdul Bari, 2002, Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta : YBP-SP, 2002.
7.             Sastrawinata, Suliman, 2005, Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi, Edisi 2, FKUP : Jakarta.
8.             Varney, Hellen, 1997, Midwifery, Edisi ketiga.

No comments:

Post a Comment